Skip to main content

Pemaksaan dan Keyakinan Agama Masih Terjadi di Indonesia




Agama adalah suatu keyakinan yang mengatur aturan keimanan dan peribadatan pada Tuhan Yang Maha Kuasa serta hubungan antar manusia dan makhluknya. Asal nama Agama berasal dari sangskerta berarti tradisi, sedangkan dalam kata lain religi yaitu mengikat dirinya dengan Tuhan.

Di samping itu, agama merupakan segala sesuatu yang diyakini dan dijadikan sebagai falsafah hidup dalam berbangsa dengan didasari oleh kesatuan pandangan serta ideologi. Namun apa terjadi, justru agama malah dijadikan pemicu  pertama oleh sebagian besar sebagai perdebatan sampai terjadinya konflik yang disebabkan adanya antagonisme agama. Bukan agama saja yang menjadi serotan tetapi antar suku, ras, budaya, juga terjadi pemasalahan lantaran tidak terima satu sama lain itu.

Secara fitrah, perbedaan antar keagamaan tidak dikenai namanya paksaan sama sekali karena itu mencangkup pada personal, tidak ada hak orang lain untuk mencampurinya. Pada pandangan agama, mengajarkan bahwa seseorang harus bisa menghargai dan saling toleransi sesama. Tidak ada pungutan seseorang untuk memaksa orang lain meyakini apa yang diyakini malahan menyuruh untuk toleransi, termasuk juga dengan perbedaan lainnya seperti suku, ras, budaya dan sebagainya yang merupakan kepercayaan oleh sebagian kelompok. Orang lain tidak boleh mengklaim orang untuk mengikuti apa yang diikutinya karena dia berbeda. Tiap individu mempunyai hak untuk mempercayai apa yang dipercayanya hanya saja sikap saling menghormati yang harus diterapnya tanpa melihat sisi perbedaan. 
Dunia ini begitu banyak sekali perbedaan pada tiap-tiap negera seperti halnya di Indonesia banyak sekali perbedaan bukan agama saja tetapi budaya, bahasa, tradisi, suku, dan sebagainya dalam satu negara. Tetapi bedanya, Indonesia berideologi dengan satu pandangan saja yaitu pancasila. Namun, dibalik perbedaan pasti adanya konflik seperti yang terjadi pada berita “Komnas HAM: Pemaksaan Agama Masih terjadi.“ Kompas.com.

Dalam berita tersebut pemaksaan agama masih terus terjadi di Indonesia. Kejadian tersebut terjadi pada enam kota yang berada provinsi di Indonesia yaitu Kota Tangerang, Lebak, Sukabumi, Tasik, Blora, dan Solo. Adapum kasus pemaksaan agama dan keyakinan terjadi melalui aspek pendidikan, kesehatan, ketenaga kerjaan, dan administrasi kependudukan. Dari perihal tersebut, maka akan tejadinya kerusuhan serta pemusuhan sesamanya, dan pancasila yang seharusnya dijadikan sebagai ideologi pertama malah tidak berlaku lagi. Itu membuat warga tidak lagi hidup secara hukum dan banyak yang akan melanggar HAM.

Lantaran pemeluk agama yang paling banyak dianut di Indonesia adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan lainnya. Membuat seseorang kadang tidak bisa menerima satu sama lain, meskipun begitu seseorang harus bisa menerima adanya perbedaan tersebut. Karena hidup di dunia bukan kita saja tetapi orang berbeda pun berhak untuk hidup dan memilih. 

Menurut survei yang di dapatkan pada data Sensus Penduduk tahun 2010, agama yang paling banyak pemeluk di Indonesia adalah agama Islam. Pemeluk agama Islam mencapai 207, 2 juta jiwa atau 87,18 persen, kemudian agama Kristen sebesar 16,5 juta jiwa atau 2,91 persen, selanjutnya Katolik 6,9 juta jiwa atau 2,91 persen, lalu agama Hindu 4,01 juta jiwa atau ,69 persen, dan Budha sebesar 1,7 juta jiwa atau 0,72 persen, sedangkan terakhir agama Kong Hu Cu 127,1 ribu jiwa atau 0,05 persen.
Mungkin karena data tersebut, membuat para oknum tertentu melakukan pemaksaan dan keyakinan tersebut karena tidak bisa menerima agama lain di satu negara yang sama dengannya. Jika begitu, pemerintah harus turun langsung dan memberikan hukuman setimpa padanya sebab melakukan tindakan tak wajar, serta melakukan pecegahan agar hal tersebut tidak terulang lagi, kalau bisa tidak memandang siapapun pelakunya.

Oleh karena itu, agama adalah suatu keyakinan yang ada pada tiap manusia tanpa adanya pemaksaan, hanya saja menerapkan sikap saling hormat sesamanya. Terutama Indonesia, meski hidup berbeda-beda namun harus ada sikap hormat tanpa ada antagonisme. Tiap pandangan agama juga, mengajarkan bahwa seseorang harus bisa menghargai dan saling toleransi tanpa melihat sisi perbedaan. Hidup itu akan damai jika tidak ada musuh, maka jangan cari musuh. Hiduplah secara toleransi dan menghargai selayaknya saudara sendiri.


Aceh utara, 19 Juni 2019

Comments

Popular posts from this blog

Daftar Isi

  Kecantikan 5 Jenis Kulit Wajah. Kamu termasuk yang mana? Tips Perawatan Kulit yang Baik Cara Menguapi Kulit Wajahmu Obat Alami untuk Perawatan Kulit Wajahmu di Rumah Rutinitas Perawatan Kulit di Pagi Hari Tampil Cantik dalam Hitungan Menit Artikel Cara tepat mengambil keputusan dengan cerdas Kian Emas Membuat Keputusan Individual dan Praktis Kontribusi Mahasiswa Di Area Moderen 8 kata kunci meniti karir yang wajib Anda lakukan Dampak Positif dan Negatif dari Gedget Pemaksaan dan Keyakinan Agama Masih Terjadi di Indonesia Cara Menjadi Orang Kaya dengan Gaji Kecil Islamiah BIOGRAFI IMAM AL GHAZALI Karya Sastra Pria Misterius Qoutes Menyegarkan Tangisan Gadis Puisi di Musim Sejarah Kembang Lara Kesepian Maukah Kau Bermain denganku? Dirimu adalah Aku Teori Kesan dan pesan media pembelajaran Jurnal Study Semiotika Analisis Kesalahan Berbahasa di Lingkungan Sekolah Pembentukan Batuan

Tangisan Pilu dari Sang Derita

Puisi Sakit hati melihat tanah nenek moyang dihancurkan Sesak nafas meratapi nasib kian membara Amarah berkobar-kobar dengan tangisan pilu Rintihan penderitaan tak kunjung reda hingga kapanpun Sampai kapan wahai manusia  laknat membuat penderita ini terus berlangsung? Tak punya hatikah kalian? Tak punya otakkah kalian? Sebahagiakah kalian menyiksa sesamamu? Keserakahanmu akan membuatmu menderita Keegoisanmu akan menimpamu Kesulitanmu akan mendatangimu Karmamu akan kau jemput dikemudian harinya Kalian akan merasakan sebagaimana yang kami rasakan Kematian akan ada bagi yang bernyawa Wahai manusia edan! Siapa yang salah atas penderitaan ini? Keindahan alam semakin hilang  Hutan-hutan dilahap oleh manusia rakus Harta benda dicuri terang-terangan tanpa malu oleh penjajah negari Pilu menyayat hati terluka  Tangisan kian membara Sedangkan, para penjajah berfoya gembira  Dibawah erangan kesengsaraan rakyat Bumi Pertiwi ini Pengusaha tidak dapat percaya Hukum tidak dapat meng...

Analisis Penggunaan Prefiks ke-, Surfiks -ir dan Sufiks-isasi

sumber Pinterest A. Penggunaan Prefiks ke- 1. Aku tak sengaja kebawa pita rambut. Kesalahan kalimat di atas pada kata kebawa . Kesalahan tersebut terjadi karena kekurangan cermatan dalam memilih prefiks yang tepat. Pada umumnya dipengaruhi bahasa daerah misalnya Jawa dan Sunda. Dalam bahasa Indonesia, penggunaan prefiks ke- tidak ada, namun yang ada cuman prefiks ter-,  (Setyawati, 2010: 63). Jadi kata yang tepat adalah terbawa . Perbaikan: Aku tak sengaja terbawa pita rambut. 2. Saat mengendarai sepeda, kepala Gali kebentur dengan tembok. Kesalahan kalimat di atas pada kata kebentur . Kesalahan tersebut terjadi karena kekurangan cermatan dalam memilih prefiks yang tepat. Pada umumnya dipengaruhi bahasa daerah misalnya Jawa dan Sunda. Dalam bahasa Indonesia, penggunaan prefiks ke- tidak ada, namun yang ada cuman prefiks ter-,  (Setyawati, 2010: 63). Jadi kata yang tepat adalah terbentur . Perbaikan: Saat mengendarai sepeda, kepala Gali terbentur dengan tembok. 3. Wajah...